Ketika Rifky Tak Mau Meninggal

“Ma, Rifky gak mau meninggal …”

Dan tiba-tiba waktu sedang makan malam Rifky si bungsu yang sedang duduk di TK B mengeluarkan pernyataan itu ke gw, dengan wajah serius dan suram.
Gw: Semua orang pasti meninggal, Dek … tinggal menunggu kapan waktunya saja.
Rifky: Kalo meninggal terus kita ngapain?
Gw: Kalo meninggal kita dikubur.
Rifky: Abis dikubur ngapain?

Si kakak yang duduk di seberang meja jadi ikutan nimbrung,
Nadya: Abis dikubur kita jadi tengkorak. Daging-dagingnya lepas, tinggal tulangnya saja.
(Hihihi … kalo dipikir-pikir memang jawabannya serem yah, untuk anak seusia Rifky)

Gw kira pertanyaannya selesai. Ternyata masih bersambung …
Rifky: Abis jadi tengkorak jadi apa?
Gw (mulai kehabisan jawaban): Abis jadi tengkorak kita jadi fosil.
Rifky: Abis jadi fosil?
Gw (jawaban jadi bertambah jauh): Setelah jadi fosil, setelah jutaan tahun jadi minyak bumi. Jadi bensin deh …

Rifky tercenung. Wajahnya tambah suram. Kali ini matanya berkaca-kaca. Alih-alih jawaban yang kami berikan bisa memuaskan, justru membuatnya tambah mewek dan mengulangi pernyataan awalnya tadi,
Rifky: Ma … Rifky gak mau … meninggal … (mewek)

Antara kasihan dan geli gw mengelus-ngelus punggungnya. Mungkin yang ada di pikiran Rifky adalah:
“MAAAAA … AKU GAK MAU JADI PERTAMAAAAX …!”

Besoknya, waktu gw lagi di kantor, Rifky nelpon, masih mempertanyakan jadi apa kita setelah meninggal.
Kali ini gw mencoba menjawab lebih positif,
Gw: Kalo Rifky rajin sholat, baik sama temen, nanti Rifky masuk surga. Nanti kita bertemu lagi di surga. Di surga banyak permen, es krim, mobil-mobilan, mobil beneran … pokoknya semuanya ada!

Dan Rifky pun merasa lega. Sorenya langsung sholat mahgrib tanpa diminta :)

Tips Mengurangi Pemakaian Kertas

Pohon Eucalyptus - Penghasil Kertas

Setuju gak kalo gw bilang salah satu kegiatan yang mendukung go-green adalah mengurangi pemakaian kertas? Setuju gak …? Yang setuju angkat tangaaaann … Yang gak setuju angkat kakiiii …. Yak bagus. Lari jauh jauh noh yang gak setuju :)

Nah, banyak cara kok mengurangi kertas. Gak usah banyak teori deh, ini nih yang sudah gw terapkan sehari-hari. Mungkin sebagian juga sudah diterapkan pembaca yak.

1. Kalo di kantor sedang me-review dokumen gw selalu minta softcopynya untuk dikirim ke gw. Kalo sudah final baru boleh dicetak. Itupun kalo emang perlu dicetak. Kalo gak perlu-perlu amat gak usah dicetak deh. Apalagi kalo email, ngapain sih cetak-cetak email?

2. Kalo punya rekening bank atau kartu kredit segera daftar internet bankingnya. Jadi gak perlu dikirim cetakan rekening koran atau tagihan kartu kredit. Semuanya bisa dicek menggunakan internet bankingnya kan?

3. Kalo transaksi di atm pilih yang gak cetak slip. Lagian ngapain simpan slip kalo udah daftar internet banking?

4. Kalo perlu bersih-bersih sebisa mungkin pake lap ato serbet. Sehemat mungkin make tisu.

5. Perlu cek berita? Gak perlu langganan koran cetak. Cek aja web site korannya. Tapi khusus poin ini gw masih mengalah di akhir pekan masih dikirimin koran cetak, secara untuk hiburan bedinde-bedinde di rumah.

6. Kalau ada kertas tak berguna yang baru dipakai di satu sisi, jangan langsung dibuang. Manfaatkan sisi kosongnya untuk keperluan lain. Bisa untuk oret2an anak lagi belajar, atau untuk anak-anak menggambar juga bisa.

7. HP sekarang kan udah canggih-canggih. Banyak aplikasi-aplikasi untuk mencatat. Jadi kalo perlu mencatat sesuatu, gak perlu make kertas. Catet aja di HP. HP sendiri ya, jangan minjem HP orang laen.

8. Perlu mengarsip suatu hasil cetakan dokumen? Tidak perlu difotokopi. Cukup di-scan saja. Lagipula mencari dokumen dalam softcopy bisa lebih cepat dibanding mencari dokumen dalam tumpukan map-map yang sudah berdebu. Anda tidak bisa menekan Control+F di depan tumpukan map-map tersebut bukan?

Nah … Sementara itu dulu tipsnya. Kalo ada tips laen ntar disambung lagi.

Note: foto diambil dari www[dot]medanbisnisdaily[dot]com

Eureka! I Finally Found Myself Back!

Dua dari tiga posting sebelum ini menceritakan betapa galau perasaan gw. Alhamdulillah sekarang it’s over.  Gw sudah bisa mulai menata hati. Sudah mulai banyak tersenyum karena gw akhirnya bisa memandang persoalan itu dari sisi berbeda. Alih-alih merasa galau, gw berhasil membalik galau itu menjadi … perasaan senang memiliki banyak teman. I finally found myself. Welcome back.

So … this is it … (awas salah baca, bukan ‘this is sh*t’ ya ..  hahaha). Mungkin memang kejadian kemaren itu suatu ujian yang harus gw hadapi untuk membuktikan apakah gw mampu atau tidak. Alhamdulillah gw mampu ya Allah!

Ujian itu telah mendewasakanku. Walaupun sempat gw kira akan membunuhku seehhh …

Selamat, Maya!

PS: So, where is my award for passing that exam? Maybe I should organize it for myself. A new dress will do. Yay … can’t wait!

Note: gambar diambil dari http://photoblog[dot]com

Tips Membuat Pagar untuk Ranjang Anak

Salah satu permasalahan yang gw temui dulu sewaktu baru pindah ke rumah baru adalah bagaimana caranya agar ketika tidur anak gw yang masih berumur 4 tahun itu tidak jatuh dari ranjang. Ya, itu karena di rumah lama kamarnya tidak begitu luas jadi ranjangnya dimepetkan ke dinding. Sang anak bisa tidur di sisi dinding sementara kita bisa tidur di sisi yang terbuka ke lantai.

Nah di rumah baru ini kamarnya Alhamdulilah cukup luas jadi ranjangnya didesain sehingga hanya sisi kepala yang menempel di dinding. Sementara ketiga sisi lainnya terbuka. Kalo dikasih bantal guling doang, kan bantal gulingnya bisa tersepak terguling-guling hingga jatuh sendiri.

Emang gw pernah baca sih ada yang jual pagar ranjang portable khusus anak. Tapi keknya mubazir ya, dipakainya cuma sebentar. Pikir punya pikir, akhirnya gw punya ide untuk mengkolaborasikan bantal guling dengan bed cover (hindari pake selimut karena biasanya bahannya panas). Caranya bantal guling diselimuti bed cover tapi kedua sisi bed cover dibentangkan sehingga menjadi alas tidur ananda. Dengan dikolaborasikan seperti ini bantal gulingnya Insya Allah tidak akan jatuh sendiri karena tertahan berat tubuh ananda.

Untuk jelasnya lihat gambar di bawah ini deh. Nah dengan begini, tidur jadi nyenyak kan, karena gak dihantui ketakutan anak akan jatuh!

Hari ini Senin

Hari ini Senin. Terkadang hari Senin menjadi hari yang menjengkelkan bagiku. Merasakan perasaan seperti kanak-kanak yang mainannya baru direbut oleh seorang teman yang nakal. Padahal apa bedanya hari Senin dan hari Rabu? Tidakkah seharusnya hari Senin sama dengan hari Selasa?

Hari ini Senin. Senin ini berbeda dengan Senin-Senin sebelumnya. Perasaan galau yang sempat kuharap hilang ditelan waktu nyatanya masih bertengger dengan angkuhnya. Merajai hati yang sempat kupikir akulah raja dari perasaanku sendiri. Baru kusadari aku salah. Aku kalah. Kali ini.

Hari ini Senin. Aku merindukan Senin yang menjengkelkan. Senin seperti kadang kala.

God Works in His Mysterious Way

Ketika awan kelabu menghampiri, biasanya Engkau kirimkan aku angin. Menghalaunya jauh-jauh ke tepian horison. Mungkin aku akan mengeluh karena anginnya memporakporandakan jilbabku. Aku mengeluh, akibat ketidaktahuanku ternyata di atas awan kelabu telah menghilang.

Saat hujan deras menerpa, Kau kembalikan matahari untukku. Menerangi ruang hati hingga mendung pun enggan bertengger. Kadang aku memaki panas mentari itu terlalu membakar. Sampai aku tersadar air hujan sudah tak turun lagi membasahi tanah, rumput, pasir dan dedaunan.

Yes, dear God, You used to give me a way out for each problem. Somehow. Someway. Sooner. Later. God works in His mysterious way, that is.

Lantas mengapa untuk kali ini, hingga jarum pendek memeluk angka 12 tengah malam aku masih merasakan galau? Rayap-rayap tak diundang masih menggerogoti daun pintu hati? Mana angin itu? Mana matahari itu? Aku tidak akan mengeluh Tuhan … Aku juga janji tidak akan memaki ….

Damn … I guess God is not working this time. He’s taking long holidays …

Langgar Unik yang Dibangun di Tengah Jalan

Ada bangunan yang menyita perhatian gw setiap melewati jalan ini. Yaitu sebuah langgar (mesjid kecil) yang dibangun di tengah jalan. Loh, kok bisa? Jadi bagaimana cara masuk dan sholatnya? Lalu bagaimana cara kendaraan melewati jalan itu?

Tenang, tenang … walaupun terletak di tengah jalan, sebenarnya mesjid tersebut berdiri ‘mengangkangi’ jalan. Iya, jadi langgar itu bertingkat dua dan terletak di atas jalan kecil. Namanya: Langgar Al-Muttaqin yang berlokasi di jalan Sei Batang Hari, Medan.

Begini nih bangunannya:

Gerbang di bagian bawah adalah jalan

Gimana, unik kan?

Lubang Resapan Biopori di Rumahku

Masih terkait dengan postingan gw sebelumnya, akhirnya lubang resapan biopori dambaan gw sejak lama terwujud juga. Sementara ini gw bikin tiga, eh … dua dulu (awalnya tiga, tapi berhubung lubang ketiga ada airnya akhirnya lubang ketiga itu ditutup kembali atas permintaan misua). Ntar rencananya mau ditambah lagi, nanti yang lebih kecil saja diameternya supaya tidak mengganggu pemandangan.
Eh, tapi ngomong-ngomong apa sih lubang resapan biopori (LRB) itu?

Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori. Biopori itu sendiri adalah pori-pori berbentuk lubang yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman.

Manfaat lubang serapan biopori adalah untuk: 1) meningkatkan daya serapan air, 2) mengubah sampah organik menjadi kompos, 3) memanfaatkan fauna tanah atau akar tanaman. Untuk lengkapnya bisa dibaca di www[dot]biopori[dot]com.

Kalo dari sisi gw sih, kompleks perumahan kami sebenarnya tidak banjir. Tapi jalan depan kompleks (Jl. Sunggal) seringkali terendam air kalo hujan. Jadi, tujuan gw membuat lubang serapan biopori lebih kepada pencegahan agar air yang merendam jalan itu tidak sampai masuk ke kompleks kami. Apakah bisa dua biji lubang yang gw buat sampai mencegah hal itu? Memang LRB ini lebih efektif jika dibuat banyak orang.  Semoga di masa mendatang tetangga-tetangga gw tergerak juga untuk membuat LRB. Karena kalau bukan kita sendiri yang mulai, siapa lagi?

Nah, jadi sebagai gunting pitanya, sore hari waktu gw menyapu halaman depan, daun-daun dan bunga-bunga berjatuhan dari pohon depan rumah yang biasanya dijebloskan ke kotak sampah kali itu disetorkan untuk disantap Mbah Biopori.

Sampah organik yang sudah kami pisahkan juga disetor ke Mbah Biopori. Malamnya sisa-sisa makan malam gw kumpulkan dan dijadikan sesajen Mbah Biopori juga. Ditambah sedikit kata-kata sambutan terhadap semua penghuni rumah, resmi sudah! :)
Gw jadi semangat ngumpulin sampah organik! Hayo-hayo … Siapa yang mau nyetor sampah organik ke Mbah Biopori kami?

Note: tukang kebun kompleks nanyain misua gw kegunaan lubang itu, dia kira lubang itu untuk mengubur kucing! Enak aja menuduh ya … kan kalo emang bener pasti sudah kami pasangi tulisan: “Awas, kucing jangan berani-berani nyolong  makanan ya. Ntar dikubur di sini baru tauk!”.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.